Saat saya gundah menyaksikan sejumlah sinetron di televisi yang cenderung tidak edukatif dan bertanya kenapa dunia sinetron Indonesia seperti ini, tiba-tiba saja pertanyaan hati itu terjawab saat beberapa sutradara ternama diwawancarai. Mereka menjawab pertanyaan saya, ternyata mereka juga sangat tidak menyukai apa yang mereka sutradarai, mereka merasa tidak tertantang untuk memproduksi sebuah skenario yang baik, mereka betul-betul 'terperangkap' oleh keinginan sang produser yang memiliki modal produksi.
Kesedihan ini pasti akan terus berlanjut apabila para sutradara tidak punya kekuatan untuk mengatakan saya bisa lebih baik dari apa yang saya lakukan sekarang kepada sang produser. Diluar produser dan sutradara yang juga berperan adalah stasiun televisi, mereka yang harus memiliki regulasi internal atas tayangan-tayangan yang mencerdaskan. Dengan regulasi tersebut tentunya akan membawa perubahan paradigma produser dan sutradara untuk membuat hasil karya yang lebih berkelas namun tetap digemari pemirsanya.
Ada satu lagi yang justru paling berperan, yaitu pemirsa. Bila kita para pemirsa tidak menonton apa yang mereka produksi karena tayangan tersebut kita anggap tidak mencerdaskan, ya sudah sama-sama tidak kita tonton acara tersebut, agar mereka para produsen, sutradara, dan stasiun televisi bisa menjadi lebih kreatif dari sekarang.
Jadi yang harus lebih pintar kita kan ? anggukan kepala bila setuju gak usah SMS |